Pendidikan Pancasila dan Nurani Bangsa: Antitesis Mentalitas Terjajah dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Authors

  • Nanik Yuliyanti Universitas Islam Internasional Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.47651/mrf.v21i1.306

Keywords:

Pendidikan, Pancasila, Anak Usia Dini

Abstract

Pancasila sebagai dasar negara sekaligus falsafah hidup bangsa Indonesia mengandung cita-cita luhur untuk membangun masyarakat yang adil, demokratis, dan beradab. Namun, dalam praktik pendidikan nasional, nilai-nilai Pancasila sering kali berhenti pada tataran slogan dan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad Syafii Maarif pernah menyoroti persoalan colonizable mentality atau mentalitas terjajah, yakni kondisi ketika generasi muda kehilangan daya kritis dan mudah terjebak dalam arus pragmatisme. Menurut saya, persoalan tersebut berasal dari pendidikan yang belum mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila serta cenderung pasif, berorientasi pada hafalan, dan kurang memberi ruang bagi anak untuk berpikir reflektif.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

Nanik Yuliyanti, Universitas Islam Internasional Indonesia

Nanik Yuliyanti adalah mahasiswa program doktor (S3) di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Indonesia. Ia menyelesaikan studi sarjananya di Islamic College for Advanced Studies–ICAS, Jakarta (kini STAI Sadra) dan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Ia meraih gelar Magister di bidang Filsafat dan Ilmu Agama, dengan fokus pada Sejarah Agama-Agama, dari Necmettin Erbakan University di Konya, Turki. Selain itu, ia menyelesaikan program Sertifikat Pascasarjana dengan spesialisasi Dialog Antariman melalui International Peacemaking Program di Hartford International University for Religion and Peace (sebelumnya Hartford Seminary), Connecticut, Amerika Serikat. Penelitiannya berpusat pada pendekatan filosofis terhadap pluralisme, Filsafat untuk Anak (Philosophy for Children), dan pendidikan anak usia dini, dengan penekanan kuat pada penelitian kualitatif. Ia juga mengajar Studi Islam dan bahasa Inggris untuk anak-anak. Dengan latar belakang akademis lintas negara dan disiplin ilmu, Nanik membawa perspektif yang kaya dalam menjembatani filsafat, pendidikan, dan praktik di ruang kelas. Komitmennya terletak pada pertumbuhan pribadi dan pengembangan potensi, serta memastikan bahwa teori filosofis tidak hanya bersifat abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam proses dan kemajuan pembelajaran.

References

Arfaton, dkk. (2025). “Implementation of Multicultural Education as A Means of Forming Characters of Tolerance and Mutual Respect.” Jurnal Eduscience (JES), 12 (2).

Azra, A. (2017). Pluralism, Co-existence and Religious Harmony: Indonesian Experience In The “Middle Path”. Paper presentation his Visits to France, Germany, Netherlands, United Kingdom, and United States between March and May. Leimena Institute and Fieldstead and Company.

Baker, S. T., Courtois, S. L., dan Eberhart, J. (2023). “Making Space for Children’s Agency with Playful Learning.” International Journal of Early Years Education, 31 (2).

Cuaca, A. M. (2023). “Buya Syafii: Suluh Bangsa, Sang Pluralis Indonesia.” Maarif, 18 (1).

Farisi, M. I. (2015). “Bhinneka Tunggal Ika [Unity in Diversity]: From Dynastic Policy to Classroom Practice.” Journal of Social Science Education, 13 (1).

Geraci, dkk. (2023). “Education to Justice and Infants’ Sense of Fairness.” Frontiers in Psychology, 14.

Gorard, dkk. (2015). Philosophy for Children: Evaluation Report and Executive Summary. United Kingdom: Durham University dan Education Endowment Foundation.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah Akademik: Pembelajaran Mendalam, Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kemendikdasmen.

Maarif, A. S. (2019). Menerobos Kemelut (Catatan-catatan Kritis Sang Guru Bangsa). Yogyakarta: IRCiSoD.

Nurman., Yusriadi., dan Hamim, S. (2022). “Development of Pluralism Education in Indonesia: A Qualitative Study.” Journal of Ethnic and Cultural Studies, 9 (3).

Puspitasari, R. N., dan Soraya, S. Z. (2024). “Building Multicultural Personality through Religious Moderation in Early Childhood Education: Case Study in Ponorogo.” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8 (6).

Qorib, M. (2019). Pluralisme Buya Syafii Maarif: Gagasan dan Pemikiran Sang Guru Bangsa. Yogyakarta: CV. Bildung.

Shofan, M. (2023). “Membumikan Gagasan Besar Buya Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan.” Maarif, 18 (1).

Tesar, M., dan Pangastuti, Y. (2024) “From Colonial Legacies to Inclusive Futures: Transforming and Reconceptualising Early Childhood Education in Indonesia.” Global Studies of Childhood, 14 (3).

UNESCO. (2020). Global Education Monitoring Report 2020: Inclusion and education: All means all. Paris: UNESCO Publishing.

PlumX Metrics

Published

15-09-2026

How to Cite

Yuliyanti, N. (2026). Pendidikan Pancasila dan Nurani Bangsa: Antitesis Mentalitas Terjajah dalam Pendidikan Anak Usia Dini. MAARIF, 21(1), 39–46. https://doi.org/10.47651/mrf.v21i1.306