Pendidikan Pancasila dan Nurani Bangsa: Antitesis Mentalitas Terjajah dalam Pendidikan Anak Usia Dini
DOI:
https://doi.org/10.47651/mrf.v21i1.306Keywords:
Pendidikan, Pancasila, Anak Usia DiniAbstract
Pancasila sebagai dasar negara sekaligus falsafah hidup bangsa Indonesia mengandung cita-cita luhur untuk membangun masyarakat yang adil, demokratis, dan beradab. Namun, dalam praktik pendidikan nasional, nilai-nilai Pancasila sering kali berhenti pada tataran slogan dan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad Syafii Maarif pernah menyoroti persoalan colonizable mentality atau mentalitas terjajah, yakni kondisi ketika generasi muda kehilangan daya kritis dan mudah terjebak dalam arus pragmatisme. Menurut saya, persoalan tersebut berasal dari pendidikan yang belum mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila serta cenderung pasif, berorientasi pada hafalan, dan kurang memberi ruang bagi anak untuk berpikir reflektif.
Downloads
References
Arfaton, dkk. (2025). “Implementation of Multicultural Education as A Means of Forming Characters of Tolerance and Mutual Respect.” Jurnal Eduscience (JES), 12 (2).
Azra, A. (2017). Pluralism, Co-existence and Religious Harmony: Indonesian Experience In The “Middle Path”. Paper presentation his Visits to France, Germany, Netherlands, United Kingdom, and United States between March and May. Leimena Institute and Fieldstead and Company.
Baker, S. T., Courtois, S. L., dan Eberhart, J. (2023). “Making Space for Children’s Agency with Playful Learning.” International Journal of Early Years Education, 31 (2).
Cuaca, A. M. (2023). “Buya Syafii: Suluh Bangsa, Sang Pluralis Indonesia.” Maarif, 18 (1).
Farisi, M. I. (2015). “Bhinneka Tunggal Ika [Unity in Diversity]: From Dynastic Policy to Classroom Practice.” Journal of Social Science Education, 13 (1).
Geraci, dkk. (2023). “Education to Justice and Infants’ Sense of Fairness.” Frontiers in Psychology, 14.
Gorard, dkk. (2015). Philosophy for Children: Evaluation Report and Executive Summary. United Kingdom: Durham University dan Education Endowment Foundation.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah Akademik: Pembelajaran Mendalam, Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kemendikdasmen.
Maarif, A. S. (2019). Menerobos Kemelut (Catatan-catatan Kritis Sang Guru Bangsa). Yogyakarta: IRCiSoD.
Nurman., Yusriadi., dan Hamim, S. (2022). “Development of Pluralism Education in Indonesia: A Qualitative Study.” Journal of Ethnic and Cultural Studies, 9 (3).
Puspitasari, R. N., dan Soraya, S. Z. (2024). “Building Multicultural Personality through Religious Moderation in Early Childhood Education: Case Study in Ponorogo.” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8 (6).
Qorib, M. (2019). Pluralisme Buya Syafii Maarif: Gagasan dan Pemikiran Sang Guru Bangsa. Yogyakarta: CV. Bildung.
Shofan, M. (2023). “Membumikan Gagasan Besar Buya Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan.” Maarif, 18 (1).
Tesar, M., dan Pangastuti, Y. (2024) “From Colonial Legacies to Inclusive Futures: Transforming and Reconceptualising Early Childhood Education in Indonesia.” Global Studies of Childhood, 14 (3).
UNESCO. (2020). Global Education Monitoring Report 2020: Inclusion and education: All means all. Paris: UNESCO Publishing.






