https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/issue/feed MAARIF 2021-08-31T15:54:36+07:00 M Supriadi msupriadi@maarifinstitute.org Open Journal Systems <p class="Text"><strong><span lang="EN-GB">MAARIF: ARUS PEMIKIRAN ISLAM DAN SOSIAL</span></strong><span lang="EN-GB">&nbsp; adalah jurnal refleksi-kritis Pemikiran Islam dan Sosial. Jurnal ini diterbitkan oleh MAARIF Institute <em>for Culture and Humanity</em>, dengan frekuensi terbit 2 kali setahun (Juni, Desember).</span></p> <p class="Text"><span lang="EN-GB">Jurnal MAARIF merupakan ruang bagi diskursus pemikiran kritis para cendekiawan, agamawan, peneliti, dan aktivis mengenai isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Di antara beberapa cendekiawan yang pernah berkontribusi dalam penerbitan jurnal ini adalah Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Jainuri, Ahmad Syafii Maarif, Andreas A. Yewangoe, Anhar Gonggong, Ariel Heryanto, Asvi Warman Adam, Donny Gahral Adian, F. Budi Hardiman, Franz Magnis-Suseno, M. Amin Abdullah, M.C. Ricklefs, Mohamad Sobary, Ratna Megawangi, Reed Taylor, Saparinah Sadli, Syafiq A. Mughni, Vedi R. Hadiz, Yudi Latif, dan beberapa tokoh lainnya.</span></p> https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/132 Harmonisasi Islam dan Tradisi Lokal dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah di Pedesaan 2021-08-31T14:52:14+07:00 Abdul Munir Mulkhan abdulmunir.m@gmail.com <p>&nbsp;</p> <p><span class="Apple-converted-space">&nbsp;</span>Perkembangan kehidupan masyarakat di era revolusi teknologi 4.0, membuat lembaga ekonomi dan sosial banyak yang mengalami kebangkrutan ditinggalkan warga. Nasib serupa suatu saat bisa saja dialami Muhammadiyah di masa depan. Di saat demikian itulah perkembangan Muhammadiyah dengan pengalaman aktivis gerakan berdialog dengan tradisi lokal di desa Kerto Yogyakarta, Plompong Brebers, Wuluhan Jember, Sendang Ayu Lampung, Jatinom Klaten Jawa Tengah, menarik untuk dikembangkan sebagai model dan pola dialog kreatif dan kritis semacam “ijtihad” lokal menjawab pertanyaan tentang peran dan fungsi Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat yang sedang berubah. Masa depan gerakan ini banyak ditentukan oleh kemampuan memaknai ulang jargon kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara kreatif dan substantif agar tidak terjebak pada pemaknaan harfiah yang kaku dan beku. Karena itu harmonisasi tradisi lokal dengan fatwa tarjih melalui media dialog kritis dan kreatif menjadi agenda masa depan yang perlu menjadi fokus perhatian para aktivis gerakan ini untuk memelihara <em>elan-vital </em>gerakan pembaruan sosial-budaya di era abad kedua sejarahnya.<span class="Apple-converted-space">&nbsp;</span></p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/133 Jalan Moderasi Pemikiran Hukum Islam Muhammadiyah (Analisis atas “Risalah Akhlak Islami Filosofis” Majelis Tarjih) 2021-08-31T15:00:37+07:00 Pradana Boy ZTF pradana@umm.ac.id <p>Moderasi keagamaan merupakan sebuah wacana dan gerakan baru dalam konteks keberagamaan di Indonesia. Tidak semua pihak menyambut gerakan ini dengan positif. Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang merespon positif gerakan ini. Artikel ini hendak menunjukkan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam moderat dalam hal sistem pemikiran dan gerakannya. Untuk membuktikan hal tersebut, artikel ini menganalisis salah satu produk pemikiran Majelis Tarjih yang dikeluarkan pada Musyawarah Nasional Tarjih tahun 2020. Produk pemikiran itu bernama “Risalah Akhlak Islam Filosofis.” Dengan menggunakan kerangka teori moderasi, analisis atas dokumen tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah melakukan moderasi dalam dua konteks, yaitu tataran teoretis dan praktis.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/134 Jalan Baru Gerakan Moderasi Islam di Indonesia;Reagensi Lembaga Pendidikan Muhammadiyah sebagai Basis Gerakan Moderasi 2021-08-31T15:08:02+07:00 Muhammad K. Ridwan mkridwan13@gmail.com <p>Tulisan ini bertujuan untuk merefleksi dan mengelaborasi gerakan moderasi Islam di Indonesia yang dapat diperankan oleh organisasi Muhammadiyah. Perspektif ini menekankan pada konteks pendidikan sebagai model gerakan moderasi Islam yang cukup penting dalam menyukseskan agenda moderasi. Pendidikan diklaim sebagai wadah paling strategis dalam membentuk watak dan kepribadian masyarakat sebagaimana dimaksudkan dalam gerakan moderasi. Lebih dari itu, gerakan moderasi juga lebih dekat dengan gerakan preventif-advokatif-edukatif, ketimbang gerakan yang bersifat kuratif-pasif-reaktif. Oleh karena itu, tulisan ini ingin kembali menegaskan bahwa gerakan moderasi Islam melalui pendidikan merupakan jalur stategis dalam rangka mewujudkan masyarakat moderat dan berkemajuan. Peran pendidikan dalam rangka moderasi Islam tidak dapat diabaikan karena, tidak hanya akan menyebabkan dunia pendidikan dikuasai oleh gerakan ekstremis-radikalis, tetapi juga akan menyebabkan upaya moderasi Islam mengalami stagnasi dan status quo. Muhammadiyah sebagai organisasi yang memiliki lembaga pendidikan cukup banyak di Indonesia diharapkan mampu memainkan peranannya dalam rangka menggerakkan moderasi Islam di jalur pendidikan.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/135 Moderasi Beragama Muhammadiyah dalam Kajian Kesarjanaan Indonesia: Antara Studi dan Dakwah Islam 2021-08-31T15:13:30+07:00 Muhammad Alwi HS muhalwihs2@gmail.com <p>Artikel ini membahas kajian sarjana Indonesia terkait moderasi beragama yang digaungkan oleh Muhammadiyah dengan mengarah pada pemetaan apakah kajian sarjana tersebut bernuansa studi Islam atau dakwah Islam. Data-data kajian sarjana diperoleh dari artikel jurnal yang dipublikasikan sejak edisi pertama 2016 hingga edisi kedua 2020. Melalui metode <em>deskritpitf--analitis, </em>artikel ini menyimpulkan bahwa kajian-kajian sarjana Indonesia cenderung berkisar pada kajian bernuansa dakwah daripada studi. Artinya, para sarjana Indonesia cenderung menjadi perpanjangan tangan atas pemahaman dan gerakan moderasi beragama untuk konteks Indonesia. Semua latar belakang isu moderasi beragama dalam kajian sarjana Indonesia tersebut berdasarkan kegelisahannya menyaksikan fenomena radikalisme, terorisme, dan aksi ekslusif lainnya, yang secara riil membutuhkan solusi, termasuk dari perspektif Muhammadiyah. Temuan ini menunjukkan bahwa sisi teologi Islam yang melekat pada kesarjanaan senantiasa mempengaruhi kajiannya. Sehingga, sekalipun posisi sarjana Indonesia berada di ruang akademisi, yang menempatkan dan menuntut mereka sebagai peneliti, tetapi para sarjana tersebut tidak dapat dilepaskan dari identitasnya sebagai penganut agama Islam, yang yakin akan kebenaran agamanya dan bertujuan menyebarkannya, termasuk dalam hal moderasi beragama menurut ORMAS Islam Indonesia.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/136 Tantangan Muhammadiyah: Kegagapan Etik di Era Pasca Kebenaran 2021-08-31T15:22:45+07:00 Desvian Bandarsyah d.bandarsyah@gmail.com <p>Tantangan Muhammadiyah di era pasca kebenaran dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya semakin tidak mudah, disebabkan perubahan yang berlangsung pada masyarakat semakin mengarah kepada persoalan moral dan etika yang semakin kompleks, karena pola kehidupan mereka semakin rumit dengan sikap yang cenderung semakin mengeras, terutama dalam mengklaim kebenaran sebagai “pemilik yang otoritatif” dalam wacana yang simpang-siur itu. Situasi itu mendorong berkembangnya sikap, ucapan dan perilaku yang menggambarkan kekerasan verbal (<em>verbal of violence</em>) dan kekerasan narasi (<em>narration of violence</em>) dalam ruang jagad maya yang mempengaruhi ruang sosial kehidupan bersama. Muncul sikap dan perilaku yang gagap etika dalam komunikasi di ruang publik, serta menumbuh-suburkan prasangka dan kecurigaan di antara masyarakat yang bertumpu pada komunitas sosialnya. Kelemahan manusia yang paling mendasar dan menyebabkan lahirnya kesalahan adalah kepicikan dan kesempitan bernalarnya yang menjadikan ia tergesa-gesa dalam menilai pengetahuan dan informasi yang diperolehnya, juga dalam menyebarkan pengetahuan dan informasi yang diperoleh itu. Inilah tantangan Muhammadiyah dalam dakwah di era pasca kebenaran yang perlu diwujudkan dalam regulasi dakwahnya dengan mengedepan pendekatan makna dan pemaknaan semacam yang kuat, sehingga dakwahnya dapat menyentuh kesadaran individualitas dan pada akhirnya dapat menggerakkan kesadaran kolektif sebagai masyakarat.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/137 Refleksi Pendidikan Pancasila, Dar al-Ahdi Wa al-Syahada, dan Islam Wasathiyah; Daya Laku (Agensi) dan Paradigma Orang Muda 2021-08-31T15:31:53+07:00 Yulianti Muthmainnah ymuthmainnah@gmail.com <p>Muhammadiyah, organisasi keagamaan modern terbesar di Indonesia—dan dunia—berkontribusi besar dalam pembentukan negara bangsa Indonesia, termasuk perumusan Pancasila. Melalui konsep Dar al-Ahdi Wa al-Syahada, Muhammadiyah bersepakat pada ideologi Pancasila. Salah satu implementasi, penetrasi nilai-nilai Pancasila tercermin dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila yang diintegrasikan dengan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), salah satunya Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Penelitian ini mengkaji paradigma orang muda (mahasiswi/a) terhadap Pancasila, potensi mereka sebagai daya laku (agensi) untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang berperspektif Islam dan gender untuk moderasi beragama. Metode penelitian observasi selama pembelajaran, diskusi terfokus, dan narasi mahasiswi/a dari tugas individu. Hasil penelitian menunjukkan ketidaktahuan orang muda akan kontribusi Muhammadiyah dalam penyusunan Pancasila dan pembentukan negara bangsa Indonesia karena tidak disebutkan dalam buku-buku Pendidikan Pancasila. Mereka setuju Pancasila senafas dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, serta kesiapan orang muda sebagai daya laku (agensi) nilai-nilai Pancasila, moderasi beragama untuk orang muda.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/138 Komunikasi Politik Inklusif Muhammadiyah: Analisis Teks Pesan Komunikasi Muhammadiyah Pada Pemilihan Umum Serentak 2019 2021-08-31T15:39:53+07:00 Neni Nur Hayati olive_1902@yahoo.com <p>Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi politik inklusif Muhammadiyah sebagai gerakan islam amar maruf nahi munkar dalam Pemilihan Umum Serentak Tahun 2019. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis teks dalam pesan komunikasi politik Muhammadiyah. Pemilu yang pertama kali terselenggara di Indonesia, yang menyatukan Pemilihan Anggota Legislatif dengan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan secara bersamaan ini memiliki tantangan yang cukup kompleks dan berat. Keberadaan organisasi islam Muhammadiyah dinilai mempunyai peranan strategis dan signifikan dalam mewujudkan pemilihan yang berkualitas dan berintegritas. Muhammadiyah sebagai komunikator politik masyarakat telah merancang pesan komunikasi politik dalam bentuk retorika, propaganda dan fungsi komunikasi dengan efektif sehingga dapat mempersuasi publik, meminimalisir polarisasi dua kubu yang perpecah belah, mampu melawan hoax, memerangi politik uang, ujaran kebencian dan politik identitas, dengan menghadirkan narasi pencerahan sebagai alternatif isu.</p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/129 Muhammadiyah dan Moderasi Islam Etos Gerakan dan Strategi Aksi Muhammadiyah Jelang Muktamar Ke-48 2021-08-30T14:34:21+07:00 Moh. Shofan shofan_mag@yahoo.com <p>Artikel-artikel dalam jurnal ini secara umum melihat secara kritis bagaimana peran Muhammadiyah di tengah arus informasi teknologi, dan juga sebagai gerakan Islam yang membawa moderatisme, baik dalam hal sistem pemikiran dan gerakannya, atau melalui jalur pendidikan dalam rangka mewujudkan masyarakat moderat dan berkemajuan. Semangat kemodernan dan pencerahan Muhammadiyah juga terinstitusionalisasi ke dalam konsep Islam berkemajuan dalam konteks cita-cita Indonesia yang lebih maju. Gagasan keindonesiaan Muhammadiyah tercermin dalam konsep <em>darul ahdi was syahadah</em>.<span class="Apple-converted-space">&nbsp;</span></p> 2021-08-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021