MAARIF https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif <p class="Text"><strong><span lang="EN-GB">MAARIF: ARUS PEMIKIRAN ISLAM DAN SOSIAL</span></strong><span lang="EN-GB">&nbsp; adalah jurnal refleksi-kritis Pemikiran Islam dan Sosial. Jurnal ini diterbitkan oleh MAARIF Institute <em>for Culture and Humanity</em>, dengan frekuensi terbit 2 kali setahun (Juni, Desember).</span></p> <p class="Text"><span lang="EN-GB">Jurnal MAARIF merupakan ruang bagi diskursus pemikiran kritis para cendekiawan, agamawan, peneliti, dan aktivis mengenai isu-isu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Di antara beberapa cendekiawan yang pernah berkontribusi dalam penerbitan jurnal ini adalah Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Jainuri, Ahmad Syafii Maarif, Andreas A. Yewangoe, Anhar Gonggong, Ariel Heryanto, Asvi Warman Adam, Donny Gahral Adian, F. Budi Hardiman, Franz Magnis-Suseno, M. Amin Abdullah, M.C. Ricklefs, Mohamad Sobary, Ratna Megawangi, Reed Taylor, Saparinah Sadli, Syafiq A. Mughni, Vedi R. Hadiz, Yudi Latif, dan beberapa tokoh lainnya.</span></p> en-US msupriadi@maarifinstitute.org (M Supriadi) dmoerdiani@maarifinstitute.org (Deni Murdiani) Wed, 22 Dec 2021 14:30:14 +0700 OJS 3.3.0.7 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Islam dan Negosiasi Gender: Studi Pemikiran Ahmad Syafii Maarif Tentang Hak Perempuan https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/150 <p>Ahmad Syafii Maarif bayak berkontribusi dalam dunia pendidikan dan&nbsp;organisasi sosial, cara pandang keseteraan manusia ini terus menerus diserukan&nbsp;oleh beliau yang menjadi gagasan utamanya di tengah-tengah menguatnya&nbsp;arogansi manusia berbasis pengakuan keunggulan gender, keunggulan ras,&nbsp;keunggulan agama, keunggulan organisasi dan kelompok. Perbedaan peran&nbsp;dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal&nbsp;dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu&nbsp;permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi&nbsp;atau ketidakadilan. Ahmad Syafii Maarif tidak membedakan antara laki-laki&nbsp;dan perempuan dalam kepemimpinan karena Islam tidak mengenal perbedaan&nbsp;kepemimpinan berdasarkan gendernya, tetapi berdasarkan ketakwaan yang&nbsp;merupakan prasyarat mendasar dari seorang pemimpin serta mempunyai&nbsp;kemampuan yang prima dan bermoral.</p> Aminah Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/150 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Jimpitan: Filantropi Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/151 <p>Pandemi membuat keadaan ekonomi masyarakat Indonesia kian terpuruk.&nbsp;Hal ini diperparah dengan pengurangan pekerja yang terjadi di beberapa&nbsp;perusahaan. Namun, dalam Islam wabah bukanlah suatu hal yang baru ada&nbsp;belakangan ini. Islam memberikan solusi atas wabah yang terjadi dan lokalitas&nbsp;masyarakat pun mengaplikasikannya dalam pelbagai macam budaya yang ada.&nbsp;Tujuan penulisan artikel ini untuk membahas tradisi masyarakat Jawa yaitu&nbsp;jimpitan sebagai bentuk filantropi kearifan lokal masyarakat Jawa. Tradisi ini&nbsp;berkaitan erat dengan konsep filantropi yang ada secara aksiologi. Masyarakat&nbsp;Jawa telah melestarikan budaya kedermawanan, keramahan hati, dan&nbsp;sumbangan sosial. Artikel ini merupakan studi kepustakaan yang termasuk ke&nbsp;dalam kajian kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini merupakan&nbsp;riset terkait filantropi dan tradisi jimpitan yang ada di masyarakat Jawa. Sumber&nbsp;data yang diperoleh kemudian dicatat, dikelompokkan, dan dianalisis oleh&nbsp;peneliti. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, tradisi jimpitan&nbsp;yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat membantu&nbsp;masyarakat yang kurang mampu. Selain itu, hasil yang didapatkan digunakan&nbsp;untuk perbaikan fasilitas desa.</p> Syihaabul Hudaa, Royan Nur Fahmi Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/151 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Fatwa Zakat MUI dalam Menjawab Isu-Isu Kontemporer https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/152 <p>Keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) selalu identik dengan fatwa.&nbsp;Karena salah satu peran MUI adalah sebagai pemberi fatwa (mufti). Penelitian&nbsp;ini berupaya menganalisis fatwa-fatwa zakat Komisi Fatwa MUI untuk menjawab&nbsp;permasalahan-permasalahan kontemporer seputar zakat terkait pengembangan&nbsp;objek zakat, pendefinisian asnaf, dan pengelolaan zakat. Sumber data diambil&nbsp;dari diskusi, wawancara langsung, observasi dan kajian pustaka. Dari penelitian&nbsp;ini menyimpulkan bahwa Komisi Fatwa MUI telah mengeluarkan 16 fatwa pada&nbsp;periode tahun 1982 – 2000 yang dihasilkan melalui forum regular Komisi Fatwa&nbsp;MUI, forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa dan forum Musyawarah Nasional&nbsp;MUI. Melalui fatwa zakatnya MUI berperan memberikan arah, pedoman,&nbsp;panduan bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah zakat terkait persoalan&nbsp;pengembangan ashnaf, objek zakat, dan pengelolaan zakat yang belum dibahas&nbsp;secara detail dalam Al-Qur’an dan Hadist. MUI juga ikut mengelola zakat,&nbsp;infaq, sedekah (ZIS) melalui Islamic Fund Development (IDF).</p> Erni Juliana Al Hasanah Nasution Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/152 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/143 <p>Artikel-artikel dalam jurnal ini secara umum melihat secara kritis bagaimana&nbsp;Islam memandang perempuan, serta peran perempuan di ruang publik.&nbsp;Seiring perkembangnya zaman, kaum perempuan mempunyai pemikiran maju&nbsp;dan berkarya di tengah-tengah publik sesuai dengan kemampuan bidangnya&nbsp;untuk memperkuat eksistensi kaum perempuan, memperkuat kepemimpinan&nbsp;perempuan dan memperkuat organisasi-organisasi perempuan yang konsen&nbsp;pada isu gender. Demikian juga, meningkatkan keterwakilan perempuan dalam&nbsp;lembaga pengambil keputusan untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan&nbsp;pemerintah, peraturan-peraturan dan kualitas layanan dasar, agar memenuhi&nbsp;kebutuhan perempuan secara lebih proporsional.</p> Moh. Shofan Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/143 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Kesetaraan Gender Perspektif Ahmad Syafii Maarif sebagai Upaya Mengkontekstualisasikan Ajaran Islam di Indonesia (Reintrepretasi atas QS. an-Nisa: 34) https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/144 <p>Artikel ini membahas tentang pandangan Ahmad Syafii Maarif mengenai&nbsp;peran perempuan dalam kehidupan sosial di Indonesia dengan basis QS. An-&nbsp;Nisa: 34, yang kemudian dikaitkan dengan diskursus kesetaraan gender yang&nbsp;masih polemik dalam kajian Islam. Tujuan artikel ini adalah mendialogkan&nbsp;pemikiran Ahmad Syafii Maarif, sebagai salah satu tokoh Islam kontemporer,&nbsp;dengan diskursus gender dalam mengkontekstualisasikan ajaran Islam di&nbsp;Indonesia. Dengan menghadirkan diskusi ini, maka akan terlihat bagaimana&nbsp;tokoh Islam dan negarawan, seperti Syafii Maarif, berupaya ‘membawa’ spirit&nbsp;Islam dari masa pewahyuannya di Arab hingga ke bumi Indonesia. Hal ini&nbsp;penting, agar diskusi teks agama tidak melulu berada ‘di atas langit’ atau&nbsp;bahkan berada di lingkungan Arab semata, tetapi mampu ‘membumi’ dalam&nbsp;kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, Islam yang dikenal sebagai&nbsp;agama rahmatan lil alamin dapat dirasakan oleh umatnya di manapun berada,&nbsp;termasuk di Indonesia. Dalam hal ini termasuk ajarannya yang berkaitan&nbsp;dengan pengangkatan derajat perempuan, sebagai salah satu misi rahmat-nya.</p> Muhammad Alwi HS Copyright (c) 2021 MAARIF https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/144 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 HeForShe Campaigner pada 16 Minggu Gerakan Zakat Nasional untuk Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/145 <p>Pelibatan laki-laki untuk penghapusan segala bentuk diskriminasi berbasis jenis&nbsp;kelamin ataupun kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai&nbsp;bentuk seperti fisik, psikis, ataupun seksual dalam segala aspek kehidupan&nbsp;perempuan dan anak, telah mencapai momentum melalui kampanye tingkat&nbsp;global-dunia yang bernama ‘HeForShe’. Meminjam gerakan HeForShe, Pusat&nbsp;Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan&nbsp;Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta melakukan ’16 Minggu Gerakan Zakat Nasional&nbsp;(16MGZN); Mulai dari Muzzaki Perempuan untuk Mustahik Perempuan Korban&nbsp;Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak’ yang dimulai 27 Agustus–Desember&nbsp;2021. Program ini telah menemukan para laki-laki, juru kampanye HeForShe,&nbsp;yang atas kesadaran penuhnya sedia mendukung 16MGZN dengan berbagai&nbsp;bentuk. Kegiatan ini bagian dari penyebaran informasi, peningkatan kesadaran,&nbsp;pemahaman publik atau masyarakatkan untuk penghapusan kekerasan seksual&nbsp;melalui diskusi berseri atau seminar nasional. Data primer berasal dari statemen&nbsp;dukungan mereka ketika kegiatan berlangsung, jumlah pembelian buku atau&nbsp;berzakat/berdonasi. Data sekunder didapatkan dari liputan media. Hasilnya&nbsp;dalam kegiatan 16MGZN, lebih banyak laki-laki yang memberikan statemen&nbsp;dukungan lebih kuat termasuk jumlah pembelian buku lebih banyak daripada&nbsp;perempuan.</p> Yulianti Muthmainnah Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/145 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Zakat Sebagai Upaya Penghapusan Feminisasi Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/146 <p>Kemiskinan acapkali berwajah perempuan. Situasi ini kita jumpai pada,&nbsp;maupun hadir dalam bentuk nyata dalam kehidupan di sekitar kita. Namun,&nbsp;acapkali perempuan diabaikan dan seringkali luput saat ada berbagai bantuan&nbsp;kemanusiaan. Salah satu solusi Islam terhadap pengentasan kemiskinan adalah&nbsp;melalui konsep Zakat, untuk diberikan pada mereka para mustahiq yang terbagi&nbsp;ke dalam 8 golongan (ashnaf). Perempuan korban kekerasan, baik KDRT&nbsp;maupun kekerasan seksual bisa dikategorikan setidaknya ke dalam 4 dari ashnaf&nbsp;tersebut. Yaitu: fakir, miskin, riqab, dan ibnu sabil. Zakat untuk mereka akan&nbsp;memperkuat posisi mereka sehingga bisa menjadi penyintas dan move on dengan&nbsp;melanjutkan hidup dengan berbagai kegiatan dan usaha ekonomi produktif&nbsp;lainnya.</p> AD Kusumaningtyas Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/146 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Filantropi Kristiani, SDGS KE 17 & Filantropi Nasional untuk Korban Pelanggaran HAM & HAP https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/147 <p>Salah satu yang penting diangkat adalah isu perempuan pembela HAM&nbsp;dan seringkali titik berangkatnya adalah korban (tidak berdaya, menderita&nbsp;kekerasan seksual) dan kemudian melawan menjadi korban saja menjadi&nbsp;penyintas yang memperjuangkan kasus yang menimpanya dan bertransformasi&nbsp;menjadi pembela (defender) atau perempuan pembela HAM (PPHAM) ketika&nbsp;membela orang dan kasus lain di luar dirinya dengan prinsip nir kekerasan&nbsp;dan memegang universalitas hak-hak asasi manusia. Ada banyak inspirasi dari&nbsp;Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama untuk berbagi bagi sesama terutama&nbsp;mereka yang lemah, miskin, kaum janda, pelacur, yang sakit badan maupun&nbsp;sakit mental dan anak-anak. Gerakan filantropi sudah harus bergeser ke arah&nbsp;isu yang spesifik, seperti perempuan dan korban pelanggaran HAM.</p> Damairia Pakpahan Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/147 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Seksualitas “Transgender” di Kongres Ulama’ Perempuan Indonesia (KUPI): Narasi Pengalaman https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/148 <p>Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) berhasil digelar di Indonesia,&nbsp;kongres ini menjadi momentum besar buat perempuan untuk berani tampil&nbsp;dihadapan publik. Dalam sejarah Islam, perempuan telah menjadi bagian&nbsp;dari setiap perkembangan peradaban Islam. Dalam konteks Islam Indonesia,&nbsp;eksistensi ulama perempuan Indonesia dalam sepanjang sejarah kehidupan&nbsp;masyarakat Indonesia adalah nyata adanya. Dalam sosial-politik, perempuan&nbsp;Indonesia telah menuliskan sejarah, seperti misalnya di Aceh yang telah&nbsp;dipimpin oleh empat orang Sulthanah selama era dua abad lamanya. Namun&nbsp;dalam Kongres yang digelar itu, tak satupun ada pembahasan isu seksualitas&nbsp;dan trasgender yang dijadikan sebagai topik pemabahasan. Sejatinya, wacana&nbsp;seksualitas untuk kelompok marginal dan kelompok minoritas seksual seperti&nbsp;transgender. Hal itu karena, kelompok transgender diakui atau tidak menjadi&nbsp;bagian dari komunitas seksual minoritas yang eksistensinya seringkali dianggap&nbsp;tidak ada.</p> Masthuriyah Sa’dan Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/148 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700 Perkembangan Nasib Perempuan di Dunia Islam; Perbandingan Arab Saudi dan Afghanistan https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/149 <p>Kaum perempuan selalu menjadi korban dari terorisme, juga radikalisme.&nbsp;Tidak sedikit kaum perempuan yang terlibat dengan aktifitas terorisme karena&nbsp;terpengaruh oleh suami dan keluarganya. Arab Saudi merupakan sebuah&nbsp;kerajaan dengan sistem monarki absolut yang serba paradoks. Pada satu sisi,&nbsp;Arab Saudi bersahabat dengan Amerika Serikat dan Negara Eropa untuk&nbsp;memusuhi Iran. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan, Arab Saudi membiarkan&nbsp;pemahaman akidah dan ideologi salafi radikal menyebar di berbagai negara&nbsp;dengan ditopang oleh pendanaan yang melimpah dari hasil penjualan migas.&nbsp;Sementara nasib perempuan Afghanistan berubah drastis setelah Taliban&nbsp;menguasai Afghanistan. Secara resmi, Taliban menguasai Afghanistan&nbsp;setelah memasuki istana kepresidenan pada pertengahan Agustus 2021 dan&nbsp;di awal September 2021, seluruh pasukan Amerika Serikat dan NATO telah&nbsp;meninggalkan Afghanistan. Tidak lama setelah Taliban menguasai Afghanistan,&nbsp;ASN perempuan menggelar demonstrasi di depan istana kepresidenan,&nbsp;akan tetapi dibubarkan secara represif oleh Taliban. Perempuan Afghanistan&nbsp;kembali tidak diperkenankan menerima hak untuk memperoleh pendidikan&nbsp;dan pekerjaan. Dengan alasan keamanan, Taliban kemudian menekan kaum&nbsp;perempuan agar tetap di rumah.</p> Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo Copyright (c) 2021 https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/149 Wed, 22 Dec 2021 00:00:00 +0700