Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern di Tengah Pandemi Covid-19

  • M. Amin Abdullah UIN Sunan Kaljaga, Yogyakarta
Keywords: konflik-independen-dialog-integrasi, semipermeable, intersubjective testability, creative imagination, muslim progressif, fresh ijtihad

Abstract

Hubungan agama dan ilmu menurut Ian G. Barbour dapat diklasifikasi menjadi empat corak, yaitu, Konflik, Independen, Dialog dan Integrasi. Apa implikasi dan konsekwensi dari paradigma Dialog dan Integrasi jika diterapkan dalam keilmuan agama, khususnya agama Islam, melalui perspektif pemikir Muslim kontemporer. Hal ini penting karena praktik pendidikan dan dakwah agama pada umumnya masih menggunakan paradigma Konflik dan Independensi. Baik yang menggunakan paradigma Konflik dan atau Independen maupun paradigma Dialog dan Integrasi akan besar berpengaruh pada pembentukan budaya berpikir sosial-keagamaan baik di ruang privat maupun publik. Argumen yang hendak diajukan adalah bahwasanya hubungan antara agama, dalam hal ini ‘Ulumu al-din (ilmu-ilmu agama Islam) dan ilmu, baik ilmu kealaman, sosial maupun budaya meniscayakan corak hubungan yang bersifat dialogis,

integratif-interkonektif. Hubungan antara disiplin ilmu keagamaan dan disiplin ilmu alam, sosial dan budaya di era modern dan post-modern adalah bersifat semipermeable, intersubjective testability dan creative imagination. Studi Keislaman (Dirasat Islamiyyah) kontemporer memerlukan pendekatan multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin. Linearitas ilmu dan pendekatan monodisiplin dalam rumpun ilmu-ilmu agama akan mengakibatkan pemahaman dan penafsiran agama kehilangan kontak dengan realitas dan relevansi dengan kehidupan sekitar. Budaya berpikir baru yang secara mandiri mampu mendialogkan sisi subjective, objective dan intersubjective dari ilmu dan agama menjadi niscaya dalam kehidupan multireligi-multikultural dan terlebih di era multikrisis yang melibatkan sains, kesehatan, sosial, budaya, agama, politik, ekonomi, keuangan sekaligus akibat penyebaran pandemi Covid-19 di dunia sekarang ini. Kesemuanya ini akan mengantarkan perlunya upaya yang lebih sungguh-sungguh dan ketekunan untuk melakukan rekonstruksi metodologi studi keilmuan dan metodologi studi keagamaan di tanah air sejak dari hulu, yakni filsafat ilmu dan filsafat ilmu-ilmu keislaman sampai ke hilir, yaitu proses dan implementasinya dalam praksis pendidikan dan dakwah keagamaan.

Author Biography

M. Amin Abdullah, UIN Sunan Kaljaga, Yogyakarta

Amin Abdullah, adalah Guru Besar dalam Ilmu Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lahir di Pati, Jawa Tengah, 28 Juli 1953, ia menyelesaikan program S2–S3 di Departement of Philosophy, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1984- 1990) dengan disertasi yang diajukan The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant (1990). Gelar Guru Besar dalam Ilmu Filsafat diperolehnya pada Januari 1999 dengan pidato pengukuhan berjudul “Rekonstruksi Metodologi Studi Agama Dalam Masyarakat Multikultural dan Multirelijius” pada 13 Mei 2000. Bidang ilmu, keahlian dan penelitian yang ditekuninya adalah Filsafat Ilmu, Filsafat Islam, Filsafat Ilmu-ilmu Keislaman, Studi agama-agama, Agama dan masyarakat multikultural, dan Pendidikan Inklusi. Telah banyak karya yang telah dihasilkan beliau, beberapa diantaranya: “Multidisiplin, Interdisiplin dan Transdisiplin: Ilmu Pengetahuan dan Riset pada Perguruan Tinggi Masa Depan”, dalam Era Disrupsi: Peluang dan Tantangan Perguruan Tinggi di Indonesia”, Jakarta: Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), 2017; Islam di Indonesia atau Islam Indonesia (Studi Pergulatan Definisi dan Jatidiri), Jurnal Sosiologi Agama, 9:2, 2017; “Divinity and Humanity in Islam and Christianity: A Post- ACW Reading of the Qur’an”, Exchange, Belanda, 2016; Kontribusi Ilmu Kalam/Filsafat Islam dalam Pembangunan Karakter Bangsa, Jurnal Ilmu Ushuluddin, 2016; Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama, Jurnal Bestari, 8, 2016; “Religion, Science and Culture: Integration and Interconnection Paradigm”, al-Jami’ah,UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015; Nursi Movement and Muhammadiyah: A Note on Modern Islamic Thought in Turkey and Indonesia: Affinities and Differences, Innovatio, 15:2, 2015; Integrasi-Interkoneksi Psikologi (Implementasi Bagi Penyusunan Buku Ajar di Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Psikologi Integratif, 2: 1, 2015 (bersama Waryani Fajar Riyanto).

Published
2020-06-10