Covid-19, Agama, dan Sains

  • Musa Maliki Universitas Pembangunan Veteran Jakarta
Keywords: Covid-19, agama, sains, kedokteran, ilmuwan Muslim

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang discourse kelompok beragama yang ignore terhadap Covid-19. Ada anggapan dari mainstream umat beragama bahwa kelompok ini tidak menggunakan akalnya tetapi menggunakan egonya sehingga mempunyai implikasi sosial yakni menularkan virus SARS-CoV-2 ke orang-orang di dekatnya. Singkatnya kelompok ini konservatif dan ‘anti-sains’. Tulisan ini memberi perspektif yang berbeda bahwa kaum beragama yang ignore terhadap Covid-19 menggunakan agama demi melindungi dirinya atau demi kepentingan survival-nya di level eksistensial dari represi discourse modernkapitalisme. Problemnya, discourse kelompok ignorance ini justru melegitimasi (membenarkan) discourse politik sekuler Barat yang telah mengandangkan agama ke ‘agama’ dalam definisi yang dikonstruksikannya. Padahal, dalam Islam, Ilmuwan Muslim terdahulu menjalankan hidup asketismenya justru melalui jalur sains demi mencari kebenaran Allah yang mewujud pada alam semesta (ayat kauniyah). Di sini ada sinergi dan keselerasan antara sains dan spiritualisme, yang ukhrawi dan yang duniawi (secular), transcendental dan immanent. Oleh sebab itu, hal yang penting adalah proses penghayatan keberagamaan selalu harus diawali dengan disiplin ketat dalam mempelajari agama secara bertahan, tidak serampangan dan melompat-lompat atau terus belajar kepada para ahlinya, bukan dengan ‘demokratisasi’ agama.

Author Biography

Musa Maliki, Universitas Pembangunan Veteran Jakarta

Musa Maliki merupakan alumni S1 Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2003) dengan predikat GPA tertinggi di Fakultasnya. Ia memperoleh PhD di bidang Politik dan Hubungan Internasional dari Charles Darwin University, Australia (2020). Ia pernah menjadi pengajar HI di Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Paramadina, Universitas al Azhar Indonesia, IISIP dan Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama). Ia pernah menjadi team editor Jurnal “Global” HI Universitas Indonesia. Ia aktif menulis di media (Kompas, Tempo, Media Indonesia, The Jakarta Post, Sindo, dll), jurnal HI (Universitas Indonesia, Universitas Katolik Parahyangan,

Universitas Paramadina, dll) dan pembicara di forum nasional dan Internasional. Ia menjadi salah satu editor buku Metodologi Ilmu Hubungan Internasional (2014) dan di dalamnya menulis book chapter dengan judul “Tradisi Metodologi Hubungan Internasional Islam: Alternatif Arkoun terhadap Krisis Epistemologi Hubungan Internasional”. Karya terbarunya bersama Asrudin Azwar, “Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat” (2019). Ia tertarik mendalami tema-tema tentang kebudayaan, agama (keagamaan), Islam dan Hubungan Internasional; filsafat dan teori Hubungan Internasional. Kini, Ia menjadi pengajar tetap di HI Universitas Pembangunan Veteran Jakarta dan aktif di Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB).

Published
2020-06-30