Otoritas Agama di Era Korona: Dari Fragmentasi Ke Konvergensi?

  • Mohammad Zaki Arrobi Universitas Gadjah Mada
  • Amsa Nadzifah Komunitas dan Perpustakaan The Peace
Keywords: Korona, Ustad Selebritis,, Organisasi Islam,, Otoritas Agama,, Covid-19

Abstract

Artikel ini berupaya menarasikan pandangan, sikap, dan peran otoritas keagamaan Islam dalam merespons situasi pandemi akibat penyebaran virus korona di Indonesia. Fokus artikel ini adalah artikulasi wacana keagamaan dan praksis sosial yang dilakukan oleh ‘ustad selebritis’ dan organisasi massa Islam dalam menghadapi pandemi akibat Covid-19.Tulisan ini mengulas pergeseran wacana di kalangan otoritas keagamaan menyangkut isu Covid-19. Di saat wabah korona belum terdeteksi di Indonesia yakni di bulan Januari-Februari, respons otoritas agama mengalami fragmentasi dan kontestasi. Fragmentasi ini ditunjukkan dengan adanya gap antara sikap pro aktif dan konstruktif mayoritas pemuka dan organisasi agama dengan sikap reaktif dan kontra produktif sebagian kecil pemuka agama lainnya. Lambat laun, seiring dengan kasus Covid-19 yang kian menyebar di tanah air, otoritas agama baru berupa ‘ustad selebritis’ maupun otoritas agama lama seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU mengalami konvergensi wacana dan praksis keagamaan dalam merespons Covid-19. Mereka sama-sama bekerja keras meyakinkan umat Islam bahwa pesan otoritas agama selaras dengan panduan otoritas kesehatan.

Author Biographies

Mohammad Zaki Arrobi, Universitas Gadjah Mada

Mohammad Zaki Arrobi, merupakan dosen muda di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan peneliti di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, UGM. Ia menyelesaikan studi masternya dengan predikat distinction dari Department of Sociology, University of Essex, UK, pada tahun 2017 dengan beasiswa dari British Chevening. Sebelumnya, pada 2013, skripsinya meraih penghargaan Maarif Fellowship dari Maarif Institute, Jakarta dan diterbitkan Gadjah Mada University Press. Ia intens terlibat dalam riset tentang multikulturalisme, intoleransi, kekerasan, kewargaan, dan politik identitas. Beberapa publikasi terbarunya antara lain ‘Islamisme ala Kaum Muda Kampus: Dinamika Aktivisme Mahasiswa Islam di UGM dan UI di era pascaSuharto’ (2020), “A Tale of Two Royal Cities: The Narratives of Islamists’ Intolerance in Yogyakarta and Surakarta” bersama Najib Azca dan Hakimul Ikhwan (2019), “Islamisme yang Terbelah: Kontestasi dan Koeksistensi Gerakan Mahasiswa Islamisme di UGM dan UI di Era pasca-Orde Baru (2019), “Vigilantism as Twilight Institution: Islamic Vigilante Groups and the State in PostSuharto Yogyakarta” (2019), Dua Menyemai Damai: Peran Muhammadiyah dan NU dalam Perdamaian dan Demokrasi bersama Najib Azca, Hairus Salim, dkk. (2019) , “The Making of Islamist-inspired Terrorism and Its Counter-Terrorism in Indonesia (2018), “Trump Executive Order will Spark Radicalization” (2017), dan lain-lain. Semasa mahasiswa, Zaki aktif bergelut dalam dunia aktivisme kemahasiswaan, seperti menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa FISIPOL UGM, Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi, dan beberapa komunitas dan gerakan mahasiswa di dalam maupun di luar kampus. Kini ia bergiat dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Amsa Nadzifah, Komunitas dan Perpustakaan The Peace

Amsa Nadzifah, Pendiri komunitas dan perpustakaan The Peace, fasilitator pendidikan perdamaian dan mitigasi bencana di program Sekolah CERDAS, dan asisten peneliti. Inisiator konten positif #KultumVirtual dan diskusi The Peace di IMM UGM-UNY. Tertarik pada isu pemberdayaan perempuan, perdamaian, dan resolusi konflik

Published
2020-06-30