Covid-19 dan Matinya Metode Pengajaran Tradisional: Perspektif Islam

  • Sukron Kamil Universitas Islam Negeri Jakarta
Keywords: Covid-19, positif/negatif, mahasiswa/siswa, dosen, hafalan, dan rasionalitas

Abstract

Covid-19 bukan hanya meluluh-lantakkan banyak bidang kehidupan yang berefek negatif, melainkan juga darinya ada banyak sisi positif dan itu berlaku juga bagi dunia pendidikan/pengajaran. Di antara sisi positifnya, Covid-19 telah memproklamirkan kematian metode mengajar tradisional. Paling tidak, metode mengajar dengan dosen/guru sebagai pusat dan metode mengajar berbasis hafalan. Keduanya bukan hanya tak sejalan dengan tuntutan Covid-19 yang menekankan proses pembelajaran sebaliknya, melainkan juga tak sejalan dengan teori pengajaran/pendidikanmodern/kontemporer. Baik Covid-19 maupun teori pendidikan modern menuntut diterapkannya metode mengajar dengan siswa/mahasiswa sebagai pusat dan metode mengajar tak berbasis hafalan. Dalam Islam meski metode mengajar dengan dosen/guru sebagai pusat dan metode mengajar berbasis hafalan merupakan tradisi yang kuat, bukan berarti metode mengajar dengan siswa/mahasiswa sebagai pusat dan metode mengajar tak berbasis hafalan bertentangan dengan Islam. Ada banyak sisi Islam, baik Islam sebagai ajaran maupun tradisi (sejarahnya) yang panjang yang memperlihatkan dua metode mengajar yang sesuai tuntutan Covid-19 itu merupakan bagian dari ajaran dan tradisi pengajaran/pendidikan dalam Islam sejak masa klasik yang tak dipisahkan. Kedua metode mengajar itu sejalan dan telah dipraktikkan dalam Islam. Karenanya, umat Islam jangan ragu untuk menerapkan dan mengembangkan metode mengajar yang sesuai tuntutan Covid-19 itu.

Author Biography

Sukron Kamil, Universitas Islam Negeri Jakarta

Sukron Kamil, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. 

Published
2020-12-30