• Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
    Vol 15 No 1 (2020)

    Sejumlah artikel dalam jurnal edisi kali ini telah memberikan banyak perspektif, untuk memperkuat etos keagamaan dan etos keilmuan. Juga, mampu melihat secara kritis dan otoritatif untuk membicarakan dua bidang wilayah, baik wilayah agama maupun ilmu pengetahuan. Pula, dapat mengurangi kesenjangan penafsiran di antara dua bidang yang semakin lama semakin terspesialisasi ini. Artikel-artikel dalam jurnal ini harus kita baca secara kritis guna melihat celah menyikapi Covid-19 dengan pendekatan integrasi agama dan sains sebagai paradigma penyelesaian krisis.

  • Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi dan Aksi
    Vol 14 No 2 (2019)

    Perhelatan Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu beberapa waktu lalu, yang mengangkat tema “Beragama yang Mencerahkan”,—dan menjelang Muktamar Muhammadiyah Juli tahun 2020 mendatang—harus mampu memberikan perspektif baru. Muktamar Muhammadiyah mendatang harus menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang otentik dan cerdas terkait dengan berbagai ragam persoalan. Antara lain, Muhammadiyah dilihat dari bidang dakwah, pemikiran Islam, kepemimpinan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, filantropisme, isu gender serta keunikan-keunikan kasus yang berkembang di masyarakat.

    Ajang Muktamar Muhammadiyah mendatang akan terasa hambar bila ia kehilangan etos sebagai gerakan pembaruan, gerakan ilmu, gerakan amal, serta tidak mampu menangkap pesan zaman dan merespon persoalan sosialkeummatan.

     Artikel-artikel dalam jurnal ini harus kita baca secara kritis guna mempertajam keinsyafan akan permasalahan: Apakah usaha modernisasi (pembaruan) yang digagas oleh Muhammadiyah dalam perjalanan historisitasnya mengalami kemerosotan—jika tidak boleh disebut kemunduran? Apa usaha usaha yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah dalam melakukan moderasi Islam?

  • Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi Islam di Indonesia Pasca-Pilpres
    Vol 14 No 1 (2019)

    Artikel-artikel dalam jurnal ini mencoba untuk melihat fenomena terbaru dalam politik Indonesia yang terkait dengan mobilisasi dengan menggunakan identitas Islam yang sering dikaitkan dengan populisme. Sebagian akademisi lain, populisme dipandang sebagai pertanda yang baik karena dapat menjadi pengingat atau alarm bagi elite yang sedang berkuasa agar selalu memperhatikan kepentingan publik dalam setiap pembuatan kebijakan. Sebaliknya, populisme oleh akademisi lainnya dinilai tidak lebih sebagai suatu retorika elite untuk meraih dukungan massa yang melimpah pada momen politik elektoral tertentu. Dan di sebagian kalangan lainnya, populisme Islam dikhawatirkan dapat menghalangi perkembangan demokrasi di Indonesia yang sejatinya masih dalam proses transisi menuju konsolidasi demokrasi.

  • Politisasi Agama di Ruang Publik: Ideologis atau Politis ?
    Vol 13 No 2 (2018)

    Tulisan ini difokuskan sebagai upaya untuk membangun pemahaman dan kesadaran kritis isu politik identitas, politisasi agama, yang sering kali memicu konflik horizontal—yang diakibatkan oleh gesekan kepentingan, baik intra maupun antar-pemeluk agama yang berbeda. Persekongkolan di antara mereka yang ingin mendapatkan keuntungan secara materi dan politik dari agama akan membawa dampak-dampak yang sangat destruktif. Agama yang di dalamnya mengajarkan hidup damai dan saling menghormati akan terjebak dalam tafsir tunggal melalui fatwa-fatwa keagamaan yang ekstrem. Padahal, agama menyediakan ruang tafsir yang sangat terbuka dengan catatan setiap tafsir mampu membawa kemaslahatan bersama.

  • Islam dan Media: Kontestasi Ideologi di Era Revolusi Digital
    Vol 13 No 1 (2018)

    Hubungan media dan Islam dalam konteks kontestasi diskursus Islam di Indonesia dicirikan oleh sebaran narasi yang plural dan tidak homogen. Berbeda dengan pandangan orientalistik yang selama ini dianggap sebagai rezime kebenaran oleh narasi dominan internasional, yang memandang artikulasi keberislaman salah satunya yang muncul di media sebagai narasi yang monilitik dan anti-modern, perkembangan media di dunia Islam khususnya di Indonesia seperti diutarakan oleh Janet Steele (2018) dalam Mediating Islam:Cosmopolitan Journalisms in Muslim Southeast Asia menunjukan wajah media yang beragam baik ideologi maupun bagaimana masing-masing media menempatkan diri baik dalam hubungan dengan kuasa dan politik maupun pertanggungjawaban moral mereka secara profetik. Dalam konteks ekonomi-poitik komunikasi, hubungan media dan Islam saat ini sangat berhubungan dengan dua perkembangan politik yang membentuk relasi relasi sosial dan kekuasaan di Indonesia yakni politik populisme dan kuasa oligarki.